Posted in Gubuk Ceria

Kawan Lamaku

Karya : Muhammad Lutfi

Masih ku ingat masa-masa itu

Dahulu pagi senja sekali

Masih berselimut kabut dingin

Aku mengetuk pintu rumahmu

Kita sama-sama berjalan menuju bangku sekolah dengan canda tawa

Air mataku mengalir dari dalam hati

Saat orangtuamu mendaratkan telapak tangannya dipunggungmu

Pasti rasanya sakit sekali kawan

Kita sama-sama pernah melewati suka duka dan berlabuh dalam kehidupan

Masa kecil kita selalu merangkul bola kemanapun

Lalu menendangnya dan menggiringnya bersama teman-teman

Masih kuingat masa-masa itu kawan

Saat kita suka pada gadis yang sama

Berparas cantik dan berambut ikal

Kini selalu kuingat masa-masa itu kawan

Di dalam buku harian sajak-sajak kenangan

Kupilih satu bintang dan kunamai dirimu

Bahkan selalu kupanggil dan kusebut namamu sambil memandang langit

Saat rinduku kepadamu tak tertahan

 

Penulis bernama Muhammad Lutfi,  lahir di Pati, tanggal 15 Oktober 1997. Penulis tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. E-mail ajidika69@yahoo.com.  No.Hp: 085200135657. Facebook: Muhammad Lutfi.

 

 

Advertisements
Posted in Gubuk Ceria

Selamat Datang

Karya : Nur

Matahari pagi tersenyum bahagia

Lonceng sekolah berdendang riang

Mereka menyambut kedatanganmu

 

Tiba di gerbang sekolah

Pintu, jendela, bangku, melepas rindu

Tersenyum bahagia atas kehadiranmu

 

Kini, buku dan meja saling berbisik

Dia akan memilih siapa hari ini?

Jawabmu, siapa saja

 

Dipojok kelas mereka berbaris rapi

Menunggu giliran dengan segala rupa sampul buku

Selalu menggodamu

 

Ilmu dan waktu

Tak henti saling berpacu

Menuntunmu mengejar mimpi sejak hari itu

 

Selamat Datang di sekolah Nak

Kataku padamu

Wahai murid-murid kesayangku

 

Penulis kelahiran Watampone, 08 Februari 1993 ini bernama Nur. Anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan Bahru dan Mardiana. Seorang pengajar di salah satu sekolah bertaraf Internasional di  kota Makassar.

Pesan untuk komunitas GUBUK CERIA : Terus semangat dan berkarya tanpa henti

 

 

 

Posted in Gubuk Ceria

Anakku Keren

Adelaide, 6 April 2017

Horeee. Libur telah tiba. Hmm  tapi bingung ingin mencoba hal baru apa dengan buah hati? Anda tidak usah cemas. Ayah atau Bunda bisa mencoba hal menyenangkan yang satu ini, menulis!. “Kenapa menulis? Kan tidak ada aktivitas geraknya?” memang tak ada. Namun menulis bisa menjadi alternatif yang keren untuk Bunda dan buah hati. Kegiatan ini bisa membangun hubungan emosional yang baik loh. Dengan menulis, anak bisa menemukan bakat terpendamnya, terutama yang suka membaca, mengapa?. Itu dikarenakan setelah membaca, anak akan lebih banyak memiliki kosakata dan ide yang bisa dituangkannya lewat tulisan. Itu bisa berupa cerita akan mimpi, khayalan atau harapan.

Pada hakikatnya, menuangkan ide atau masalah dalam bentuk tulisan merupakan salah satu bentuk katarsis, (pelampiasan emosi) yang mampu membawa dampak positif bagi anak. Kemarahan, kesedihan, kegundahan, rasa senang bisa terluapkan lewat tulisan dan membuat mereka merasa lega. Ya, bisa dibilang menulis adalah ajang curhat secara tidak langsung.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana agar anak suka menulis?. Mulailah dengan membaca. Bunda bisa mengajak buah hati pergi ke perpustakaan atau ke toko buku semisal Gramedia. Carilah buku bergambar agar anak merasa tertarik untuk membaca. Bunda juga bisa menerapkan konsep mendongeng sebelum tidur, agar anak terbiasa dengan aktivitas mendengar, membaca dan akhirnya ingin menulis. Sebagai saran, pilihlah buku bacaan yang berakhir bahagia karena anak-anak akan senang dan termotivasi dengan cerita yang berakhir bahagia. Terutama cerita pengantar tidur, ini karena kebanyakan akan membekas dalam ingatan mereka.

Hal yang membuat kita gundah adalah kondisi pada zaman modern seperti sekarang ini. Banyak dari kita yang hanya sibuk menggali bakat menyanyi atau bahkan menari pada anak. Hal yang membuat anak menjadi sosok yang percaya diri namun sekaligus terkesan dikomersialkan melalui berbagai macam media sosial. Kejadian yang sebenarnya dapat membawa bahaya bagi anak. Faktanya, setiap hari semakin marak pencurian anak, bahkan yang menjadi korban perkosaan. Malangnya, karena kebanyakan bermula dari postingan orang tua.

Hal itu tentu tidak akan terjadi, bila orang tua dapat menggali bakat menulis pada anak. Namun ini jarang diterapkan, bahkan tak pernah terpikirkan oleh sebagian orang tua.  Padahal mengajarkan menulis sejak usia dini, akan menjadi salah satu faktor keberhasilan mereka ketika dewasa nanti. Contohnya anak lebih baik dalam pengelolaan emosi, punya pengetahuan luas dan bahkan bisa menjadi penulis terkenal.

Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan imajinasi. Itulah mengapa buku-buku dongeng banyak mengisahkan tentang hewan yang pandai berbicara atau tentang hal magic seperti pensil ajaib. Dari sini Bunda bisa belajar, bahwa anak sangat suka dengan hal-hal baru dan mengasyikkan. Jika Bunda sudah tahu dunia mereka, maka akan lebih mudah juga dalam menulis cerita untuk buah hati. Disini, saya mencoba mengajak Bunda juga loh untuk menulis. Jadi, tulisan ini juga dikhususkan untuk Bunda di rumah, Semangat yah.

Apakah Bunda sudah tahu? sekarang telah banyak lahir penulis cilik loh. Saya ada sedikit tips agar anak bisa menjadi penulis sejak dini. Hal pertama yang harus Bunda tekankan adalah minat dan motivasi. Jika anak tak memiliki minat, maka akan sulit untuk mengajaknya menulis. Bunda bisa mencoba beberapa kegiatan diatas, seperti mendongeng atau ke perpustakaan. Kegiatan tersebut bisa memberi motivasi pada anak untuk menulis kisah bahagia seperti yang sering Bunda bacakan.

Hal kedua, menjadi contoh. Bunda sebaiknya belajar menulis, agar anak juga ikut termotivasi. Kebanyakan anak akan meniru sikap dan perilaku orang tuanya. Kebiasaan Bunda dalam menulis secara tidak langsung bisa jadi akan ditiru oleh anak. Sebagai saran, jika Bunda pandai menulis, anak lebih mudah dalam berkomunikasi tentang kendalanya dalam menulis. Namun jika tak mampu, Bunda bisa meminta bantuan pada editor. Tapi akan lebih baik jika Bunda menguasai bidang kepenulisan, agar bisa membantu anak dalam mengemas ide dan ceritanya.

Ketiga, Kemasan. Anak sangat mudah bosan, jadi Bunda harus punya beribu ide untuk mengemas metode pembelajaran dalam kepenulisan. Bunda bisa mengajaknya bertamasya lalu mengajak anak menuliskan ceritanya tentang pengalaman bertamasya ke kebun binatang. Bunda juga bisa memberikan buku diary pada anak. Kebanyakan ini berhasil karena anak tidak terikat pada kaedah penulisan sehingga bebas menceritakan apa saja yang dirasa dan dipikirkannya.

Keempat, Bismillah. Nah, ini sangat penting karena kita harus memulai segalanya karena Allah. Tujuannya agar apa yang kita tulis dapat menjadi berkah dan memberi manfaat bagi yang membacanya. Niat yang baik akan membawa pada hasil yang baik. Libatkanlah Allah dalam segala aktivitas anak agar menjadi pribadi yang taat dan pandai bersyukur.

Untuk sekarang, itu dulu yah Bunda. Semoga bermanfaat. Salam dari kami Komunitas Gubuk Ceria. Senyum, Semangat, Ceria 😀

Posted in Gubuk Ceria

Mama Salah Apa ???

State Library, 23 Maret 2017

Marah merupakan salah satu bentuk emosi yang terkadang timbul karena adanya ketidaksenangan, rasa puas, maupun hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan. Hal ini tidak hanya dialami oleh anak-anak. Tapi juga orang dewasa. Jika orang dewasa kebanyakan marah karena anaknya tidak menurut kemauannya. Maka bagi anak, ini bisa menjadi senjata untuk mendapatkan perhatian orang tua.

Kita tahu bahwa sikap dan perilaku setiap orang berbeda dalam mendapatkan perhatian. Kebanyakan dari kita langsung menunjukkan amarah dalam bentuk perbuatan yang tidak terkendali. Apabila apa yang menjadi perhatian kita malah tidak diindahkan oleh sang anak. Contohnya, jika anak kita suruh berhenti bertengkar, kita hanya berbicara panjang lebar hingga pada puncaknya marah yang justru tidak menyelesaikan masalah. Namun malah akan meninggalkan bekas bagi sang anak.

Marah yang disertai intonasi yang tinggi juga akan semakin menunjukkan ketidakdamaian bagi sang anak. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa “marah” sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Saya berpandangan demikian karena “marah” memiliki makna yang berbeda bagi orang tua dan anak. Jika orang tua marah karena tidak didengarkan. Namun bagi anak dengan amarah malah bisa menjadi penyelesaian atas setiap keinginannya. Mengapa? Karena anak-anak kebanyakan baru mendapatkan apa yang mereka inginkan jika disertai dengan “amarah” dan “tangisan”. Orang tua yang tidak pandai mengatasinya langsung menuruti kemauan sang anak.

Bukankah ini sebuah tindakan yang tidak mendidik? Ya. jelas saja karena hal ini akan membentuk pribadi sang anak menjadi pribadi yang pemarah dan keras. Inilah hal yang seharusnya kita ubah tentang bagaimana cara orang tua dalam menyikapi sikap sang anak yang tidak baik yang ditakutkan akan membangun karakternya menjadi lebih buruk.

Sedikit tips bahwa orang tua seharusnya pandai dalam mengatur emosinya sebelum nantinya menghadapi berbagai perilaku kurang baik dari sang anak. Karena dengan mengontrol emosi sang Ibu lebih mudah dalam menghadapi anak dan mampu berpikir jernih. Selain itu, sang ibu harus tahu kapan bisa berlaku lembut dan tegas. Bukannya marah. Sebagai contoh, jika anak melakukan tindakan tidak baik seperti berkata kasar atau memukul, Sang Ibu harus memperingatkan sang anak dengan berbicara tegas bukan “marah”!. Bahwa apa yang anak lakukan bisa menyakiti orang lain dan itu merupakan perilaku yang tidak baik dan disenangi oleh siapapun.

Dari sini sang Ibu harus berdiri sejajar dengan anak dalam menyampaikan bahwa perilakunya tidak mencerminkan kebaikan. Sehingga anak tahu alasan mengapa mereka tidak boleh melakukannya. Namun jika anak melakukannya lagi. Sang Ibu harus membuat aturan. Ya. Disiplin sangat ditekankan. Jadi Sang Ibu harus membuat aturan dalam rumah tangga mengenai jadwal harian sang anak dan keluarga. Sikap disiplin sejak dini akan terbawa hingga tua dan mampu membentuk anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Sang anak secara tidak langsung juga belajar tentang sikap dari sang Ibu. Jadi sebagai seorang Ibu kita harus kuat dan mempunyai prinsip dalam mendidik tentunya tanpa kekerasan fisik dan perkataan tidak baik. Seperti meletakkan anak di bangku “Nakal” agar merenungi perilakunya yang kurang baik, lalu meminta maaf pada sang Ibu setelah sekian menit. Hal ini akan melatih anak menjadi pribadi yang “sadar” dan mampu mengontrol dirinya dalam melakukan setiap tindakan. Sang Ibu juga jangan sungkan mengucapkan terima kasih dan pujian ketika anak melakukan hal baik. Karena ini akan membangun hubungan emosional yang baik antara Ibu dan anak.

Posted in Gubuk Ceria

Dunia Khayal

Parang Tambung, 26 Mei 2013

Alhamdulillah, Minggu 26 Mei 2013 Gubuk Ceria kembali bersua. Bermula saat pagi menyapa. Hari yang begitu cerah langsung membuat saya tak sabar untuk bertemu mereka. Selepas sholat subuh, mengaji dan mandi saya lalu bersiap-siap. Langkah saya pun langsung tertuntun untuk menyambangi salah satu rumah. Itu adalah rumah Cantik.

Cantik adalah salah seorang anak didik di komunitas Gubuk Ceria. Gadis kecil yang berusia 8 Tahun ini merupakan anak ke 4 dari tujuh bersaudara. Kakak tertuanya bernama Arif menyusul Rika, dan Sultan yang juga aktif mengikuti kegiatan pembelajaran di Gubuk Ceria. Adik mereka juga tak kalah bersemangat yaitu Pipi dan Yusron. Terkecuali si bungsu Najwa karena masih berusia 1 tahun.

Sekitar pukul 08.00. pagi, Cantik menyambut kedatangan saya dengan senyuman khasnya. Kebetulan Ibu cantik juga ada disitu. Kami saling melempar senyum lalu menanyakan kabar dan kemudian duduk berbincang.

Beliau merupakan salah seorang tetangga kompleks yang saya kenal. Tentu saja, ketika kami berjumpa ada banyak hal yang menjadi topik perbincangan. Namun diantara semua topik yang kami perbincangkan kala itu, ada yang paling menarik. Topik itu juga paling sering Beliau ceritakan yaitu seputar dunia anak-anak. Terutama tentang perkembangan ke tujuh buah hatinya.

Beliau mengatakan bahwa ada-ada saja kejadian lucu yang dilakukan oleh buah hatinya setiap hari. Salah satunya tingkah Yusron yang selalu saja mencubit pipi Najwa, yang merupakan anak terbungsu. Itu dikarenakan Yusron ternyata begitu gemas melihat tingkah adiknya yang mulai pintar berjalan. Inilah bentuk kasih sayangnya. Namun hal itu juga selalu menghadirkan tangis bagi adiknya. Hingga awalnya sempat membuat Beliau bingung tentang bagaimana caranya bersikap yang benar pada sang kakak, Yusron.

Dalam salah satu kutipan buku yang saya baca. Judulnya 20 langkah menghentikan tangis anak. Nah, disitu diceritakan pengalaman para orang tua dalam mengatasi tangis anak dan ternyata berhasil. Salah satunya dengan menyediakan Jus Air Mata. Caranya saat si kecil menangis terlalu lama maka Ibu harus mengatakan

“Silahkan menangis, Tunjukkanlah air mata yang lezat yang menetes dari kedua matamu dan Mama akan mengambil gelas karena ingin mencicipi air matamu.”

Kemudian ambil gelas yang sebelumnya terisi sedikit air dan letakkan di bawah matanya. Dengan berulang kali menerapkannya maka anak akan paham bahwa tangisannya tidak berguna untuk memenuhi keinginannya hingga mereka berkata

“Aku tidak akan menangis lagi.”

Intinya adalah kita harus pandai mengakali setiap tindakan si kecil. Tentu juga dengan metode yang berbeda, mengingat bahwa perlakuan harus beda berdasarkan usia. Disinilah kami semakin melebarkan arah pembicaraan hingga saya lupa waktu. Syukurlah Kurniawan sang komando (ketua kelas) datang memanggil saya.

Ya. banyak hal yang saya petik hari ini dari kisah Beliau bersama buah hatinya. Kini, Arif yang merupakan anak tertua yang baru menginjak kelas 5 SD juga telah pandai mengurus adik-adiknya. Tak terbanyangkan betapa kerepotannya Beliau setiap pagi karena harus mengurusi kelima buah hatinya yang akan berangkat ke sekolah. Beliau tergolong Ibu hebat karena sering membaca buku sehingga selalu fokus memberikan perhatian serta kasih sayangnya. Terlebih selalu tepat dalam menyikapi tingkah setiap buah hatinya.

Sekarang, Arif dan keempat adiknya juga sudah mandiri hingga mereka sudah pandai mencuci baju sendiri tanpa paksaan dari sang Ibu.

“Ibu senang sekali Nur, karena urusan di rumah semakin terbantu.” Ujar Beliau sambil menikmati lezatnya martabak telur dan secangkir teh hangat.

Selepas berbincang Saya dan anak-anak Beliau berangkat ke lokasi setelah sempat berpamitan. Kurniawan pun datang memanggil kami. Di sepanjang perjalanan Kurniawan mengatakan bahwa sebagian besar teman-temannya telah menunggu untuk belajar termasuk dirinya, hingga tidak ikut bermain bola di lapangan kampus Universitas Negeri Makassar yang berada di Parang Tambung.

                                          

Mendengarnya, membuat saya semakin terpacu untuk memperjuangkan tempat belajar mereka. Maklum sampai sekarang kami hanya belajar di lahan kosong bersama dengan teriknya matahari. Proses belajar mengajar diadakan setiap pukul 09.00 Pagi hingga Dhuhur.

Saya teramat bahagia karena sebelum kelas di mulai. Tampak langkah kaki kecil lainnya mengahmpiri kami karena juga ingin ikut belajar. Orang tua mereka juga menyambut baik dan terkadang mengajak saya berkomunikasi disela pembelajaran agar tetap bertahan mengajari mereka. Sebelum mengajar anak-anak, saya terlebih dahulu mendekati mereka. Terkadang menggunakan metode learning by doing. Saat mereka merasa senang, maka saya menyodorkan secarik surat berbentuk persetujuan orang tua mereka untuk mengikuti proses belajar di Gubuk Ceria.

Hal yang sebenarnya sedikit membuat saya pilu karena para volunteer tengah sibuk mengadakan kegiatan kampus di luar kota. Hingga saya sedikit repot kala menghadapi mereka dengan segala sikap yang berbeda-beda. Namun saya bahagia meski dengan cucuran keringat dan tenggorokan yang sempat sakit. Kami tetap bahagia belajar meski dengan kondisi yang serba kekurangan.

                         

    

Hari ini saya hanya kembali mengulang-ulang pelajaran yang telah saya ajarkan sebelumnya. Termasuk lagu “Pelangi-Pelangi” dalam bahasa inggris dan Huruf. Kami juga membuat topi dari koran bekas. Saya sempat mengambil beberapa gambar dan memperlihatkannya pada mereka.

Melihatnya, mereka sangat antusias apalagi setelah saya perlihatkan anak-anak dari Sanggar Kelapa. Tiba-tiba saja Kurniawan berkata

“Sinimaki ka’. Foto lagi” ujarnya.

Saya pun tersenyum. Tiba giliran Tina

“Ka, jalan-jalanki dulue. Masa’ disini teruski.”

hingga serentak mereka berkata

“jalan………jalan……..jalan………”

Ya. Mereka tidak hentinya bersorak sambil menarik-narik lengan baju dan menghampiri saya dari belakang. Seketika proses belajar terhenti dan mereka terus merengek minta diajak jalan. Dengan nada santai saya berkata

“In syaaa Allah, Kakak janji kita akan jalan-jalan. Tapi……. dengan syarat kalau Tina, Wandah, Khusnul, Zul dan yang lainnya bisa mempertunjukkan penampilan terbaiknya dalam Bahasa Inggris. Yang pintar kan adik, bukan kakak. Ibaratnya kita bersakit-sakit dahulu kemudian….”

Sontak saja mereka melanjutkan

“bersenang-senang kemudian.”

Kami pun tertawa lepas, sangat bahagia.

Posted in Gubuk Ceria

Mendidik Sebelum Mengajar

Bagi kebanyakan orang, anak merupakan sumber kebahagiaan. Begitu pun saya. Namun, jika saya harus menjelaskannya maka saya punya perspektif tersendiri bahwa anak adalah dunia dengan sejuta imajinasi. Hal tersebut berkaitan dengan pengalaman saya hari ini. Segala macam sikap dan perilaku akhirnya mereka tampakkan di depan saya, Minggu, 19 Mei 2013.

                                           
Saya kaget dan kebingunan. Entah bagaimana harus menyikapi sikap dan perilaku mereka yang disela-sela proses pembelajaran sering kali bertengkar hingga ada yang tak henti-hentinya menangis.
Adapula yang jail dengan melempar temannya dengan semua benda yang ada disekelilingnya untuk menarik perhatian. Ada yang paling cuek, tenang dan paling patuh pun ada. Inilah warna sesungguhnya yang mereka miliki, kepolosan dan bermain. ^_^
Saya juga sempat kewalahan karena anak laki-laki lebih suka berkeliling kompleks sambil belajar. Namun anak perempuan komplen, mereka lebih menyukai belajar di suatu tempat dengan duduk tenang sambil mendengarkan penjelasan dari saya. Ada rasa senang, sedih bahkan jengkel namun rasanya selalu rindu untuk kembali bersua bersama dengan mereka.
Sedikit bayangan bahwa Gubuk Ceria adalah nama untuk sekolah binaan yang sedang saya rintis saat ini. Mengapa dinamakan gubuk Ceria? Simple saja, bahwa meskipun dengan keterbatasan ataupun kesederhanaan, siapapun tetap bisa mengecap yang namanya pendidikan dan belajar dengan penuh keceriaan.
Ada tiga bidang yaitu Keislaman, Pendidikan dan Kreativitas. Ini bertujuan tidak hanya mengasah kognitif anak. Tetapi juga motorik dan akhlak mereka agar menjadi pribadi yang cerdas, religius dan berbakat. Saya menerapkan learning by doing agar mereka lebih menikmati proses pembelajaran sehingga lebih mudah paham dan mendalami isi materi. Hal ini dikarenakan anak lebih mudah mengingat sesuatu secara visual.
Kembali pada kisah kami hari ini. Hari ini kami mengawalinya dengan membaca doa belajar lalu diiringi dongeng tentang keutamaan membaca Basmalah agar mereka senantiasa ingat untuk berdoa dan mengingat ALLAH. Setelahnya, kami lalu menyanyikan lagu oh rainbow oh rainbow yang lebih kita kenal dengan judul pelangi pelangi.
Saya hanya mengajarkan bahasa inggris. Ini atas permintaan orang tua mereka. Selain itu masih minimya volunteer dan kesibukan mereka hingga belum sempat melungkan waktu untuk berbagi bersama. Terakhir, kami membuat kerajinan dari koran bekas. Mereka membuat pola pada selembar kertas kemudian melekatkan koran bekas yang sebelumnya telah dicampur lem, dan sedikit Air. Alhamdulillah mereka sangat antusias dan akhirnya bisa menghasilkan karya yang beraneka ragam.
Sedikit curhatan mengenai lagu, Sesungguhnya saya sangat miris melihat mereka lebih menguasai lagu dewasa dibanding lagu anak-anak. Saya takut, mereka tak mampu menikmati masa kanak-kanak dengan baik. Ini bukan tanpa alasan. Karena kita tahu bahwa lagu anak-anak dijaman sekarang seakan sirna bagai ditelan bumi. Sehingga mereka terpaksa terbawa arus oleh nyanyian dewasa. Mereka juga seakan dipaksa masuk dalam dunia khayal orang dewasa lewat lirik lagu yang sebenarnya tidak pantas untuk mereka dengarkan.
                                                
Hal inilah yang terus menggugah saya untuk merintis Gubuk Ceria. Berbagi atas dasar keikhlasan dan niat karena ALLAH demi menuju kebaikan bersama untuk hidup yang lebih baik. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur karena banyak teman-teman yang mendukung. Seperti organisasi LKIMB, Pendiri Sanggar Kelapa dan terutama kak Bahyana, yang memberi motivasi dan masukan yang membangun demi perbaikan Gubuk Ceria dihari-hari berikutnya.
Hal yang paling berkesan adalah respon orang tua dari anak-anak didik yang sangat mendukung dan menerima baik kedatangan kami. Insya Allah, agar ini dapat berjalan dengan lebih baik. Kami sangat mengharapkan adanya volunteer-volunteer yang kiranya bersedia meluangkan waktu dan berbagi bersama kami di Gubuk Ceria. Selain itu kami juga meminta bantuan yang akan lebih menyukseskan proses pembelajaran adik-adik yang tinggal disekitaran Tanggul.
Posted in Gubuk Ceria

Gubuk Ceria

Gubuk Ceria merupakan komunitas belajar dan bermain yang menekankan pada tiga bidang yaitu pendidikan, keislaman dan kreativitas. Gubuk Ceria saya dirikan pada tanggal 19 Mei 2013 di Perumahan Dosen Malengkeri, Makassar. Pada awalnya hanya ada 3 pengurus dan hampir 20 siswa. Namun seiring berjalannya waktu siswa kami bertambah dan telah terdata hampir 40 orang belum lagi ditambah siswa lain yang sampai saat ini belum mengembalikan formulir. Kami mengajar anak-anak yang bisa dikatakan kurang mampu. Mengingat mereka bertempat tinggal di belakang Perumahan Dosen, tepatnya di Tanggul. Sepulang sekolah mereka langsung terjun membantu orang tua mereka. Entah di pasar, tempat cleaning maupun di rumah orang lain. Saya sering menemui mereka di kampus menjual jajanan berupa Jalangkote dan manisan Mangga. Ada juga yang menjadi buruh cuci piring di warung-warung dekat kampus dan menjadi tukang parkir.

 Kehidupan mereka sangat keras karena sebagian besar merupakan anak yatim dan sebagian lagi menjadi tulang punggung bagi keluarga. Usia mereka sendiri antara 8-15 Tahun. Dengan lingkungan sosial yang bisa dikatakan jauh dari pendidikan keluarga yang baik. Mereka sering kali mengeluarkan ujaran ujaran yang tidak pantas. Namun seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit sikap dan cara penyampaian mereka menjadi lebih terarah dengan adanya komunitas ini. Mengingat para pengajar yang merupakan volunteer Gubuk Ceria berasal dari Mahasiswa, Dosen dan Mahasiswa S2.Kami mengajarkan bagaimana cara bersikap yang baik melalui cerita-cerita islami yang sering kami bawakan. Kami berdongeng selepas Malam Ceria, tepatnya setelah mereka mengaji. Hal yang sangat berdampak dalam hidup saya setelah membangun komunitas ini adalah bahwa semakin banyak yang peduli terhadap sesama khususnya pada dunia anak-anak dan ini dibuktikan oleh sumbangan yang telah kami terima dari kalangan mahasiswa, warga asing termasuk salah seorang dosen dari kampus kami.

 Gubuk Ceria sendiri merupakan cita-cita masa kecil saya. Yayasan yang kelak mampu menjadi salah satu solusi bagi bangsa ini dalam mengurangi kemiskinan dan buruknya pendidikan. Yayasan yang mampu menampung aspirasi dan dunia khayal anak-anak yang kurang mampu dan ingin mengecap indahnya dunia pendidikan.Untuk sekarang kami masih berstatus ilegal dikarenakan relawan kami dari segi kuantitas masih minim dan belum adanya tempat/sekertariat. Kami mengajar setiap satu kali sepekan terkecuali pada malam ceria yang dilaksanakan tiap malam. Tempat belajar  mereka ada 2 yang pertama di Masjid Perumahan Dosen saat malam ceria dan yang kedua Pelataran gedung Saopanrita yang berada di depan Kampus UNM Parang Tambung, Makassar. Kami sangat berharap kedepannya Komunitas ini akan semakin sukses dan berjalan dengan lebih baik lagi. Termasuk memiliki sekret serta relawan yang mumpuni serta mampu menciptakan generasi yang cerdas, berkompeten dan berakhlak mulia. Mengingat komunitas kami telah banyak mendapat dukungan dan pandangan positif oleh para orang tua siswa, dosen maupun masyarakat setempat.